Pemaparan Program Dana Desa di Kampus London, Oleh Anggota DPR

London – Anggota DPR RI, Budiman Sudjatmiko yang juga penggagas Program Dana Desa dan Ketua Umum Inovator 4.0 mengungkapkan masih banyak desa di Indonesia memerlukan pembangunan infrastruktur seperti jalan, sarana air bersih dan klinik pengobatan.

Budiman Sudjatmiko dalam diskusi yang diadakan Indonesia-UK Infrastructure Association (INKI) di Kampus London School of Economics (LSE), Jumat malam waktu setempat, mengatakan pembangunan infrastruktur di Indonesia adalah salah satu kunci untuk mendukung kemajuan ekonomi Indonesia.

Budiman Sudjatmiko dan timnya memaparkan mengenai Program Dana Desa, termasuk pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Inovator 4.0 kepada masyarakat Indonesia dan warga asing di Britannia Raya.

Acara yang diadakan Indonesia-UK Infrastructure Association (INKI) itu menyediakan sarana dan kesempatan kepada para peserta untuk bertukar pendapat dan berani mengajukan pendapat mengenai Program Dana Desa itu.

Menurut Budiman Sudjatmoko, Program Dana Desa yang telah diperkenalkan pada tahun 2014 merupakan suatu solusi yang dapat membantu pergerakan ekonomi pedesaan.

“Dana Desa, program yang diluncurkan sebagai bagian dari Undang Undang Desa, yang diperkenalkan oleh DPR,” ujarnya.

Ia mengatakan tujuan Program Dana Desa adalah untuk membangun pedesaan melalui pemberian dana yang bisa digunakan untuk membangun infrastruktur maupun badan usaha.

Menurut data tahun 2017, dana yang telah disalurkan melalui APBN telah menghasilkan setidaknya 10.964 unit posyandu, 95.200 kilometer jalan, 914.000 jembatan dan lainnya.

Berdasarkan data yang ada, peserta bertanya dan menginginkan hasil lainnya seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia yang hidup di pedesaan.

Budiman mengakui ia dan timnya sedang mengadakan program untuk meningkatkan haltersebut. Profit yang desa dapatkan dari BUMDes dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan rakyat desa.

Tak hanya itu, banyak orang Indonesia yang berpengalaman mau datang ke desa untuk mengajar orang-orang di desa. Misalnya, salah satu representatif adalah melakukan mapping dan drone dengan mendatangi Borneo dan mengajarkan warga desanya untuk memakai drone.

Alhasil warga desa bisa mengumpulkan data melalui sebuah drone yang ke depannya akan diperlukan untuk memetakan Indonesia dan mendukung kualitas data untuk spatial planning.

Budiman juga berbagi strategi yang dilakukan ke depan untuk memperkuat Program Dana Desa itu. Saat ini, program yang telah membuahkan hasil untuk pedesaan ini masih perlu ditingkatkan terkait dengan transparansi dana, monitoring dan evaluasi.

Sementara itu menurut INKI, ke depan evaluasi Program Dana Desa harus dilakukan secara menyeluruh, dengan cara mempertimbangkan dan melihat hasilnya pada jangka panjang (outcome), dibandingkan jangka pendek (output).

Diharapkan, Program Dana Desa dapat dikembangkan agar tak hanya untuk membangun pedesaan, tapi untuk memperkecil perbedaan ekonomi antara area urban dan pedesaan di Indonesia. (Ant)